26.11.12

bidan menurutku bidan



Pernah baca kalimat ini di salah satu pp na temenku, “menantu ideal itu adalah bidan”. Woww, aku langsung mikir. sebegitu mulianya kah profesi ini…
Jadi inget hymne IBI, aku selalu ingin menangis jika menyanyikan lagu ini dalam paduan.
Setiap waktu ku berjuang
Untuk Kemanusiaan

Itulah semua tugasku
dan Tak mengenal waktu

Berat serasa ringan
Tugas seorang Bidan
Ku tak ingin tanda jasa
Semua hanya ikhlas adanya

Ikatan Bidan Indonesia
Berazas Pancasila

Seluruh jiwa dan Ragaku
Demi bahagia seluruh bangsaku

Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti dan lulus dari pendidikan bidan yang diakui oleh pemerintah setempat. Kurang meratanya tenaga kesehatan di desa-desa menjadi indikasi dibukanya pendidikan ini. Mulanya SPK (sekolah perawat kesehatan), kemudian lahirlah D1 kebidanan. Dari D1 kebidanan inilah yang disebar ke pelosok-pelosok negeri, mengisi semua desa. Kemudian masyhurlah sebutan “bidan desa” yang kini telah minimal pendidikan DIII.
Kebetulan diri ini adalah bidan desa, aku ingin kau tahu sedikit cerita tentang bidan desa berdasarkan apa yang ku rasakan. Dari cerita ini mungkin ada korelasinya dengan kalimat ideal di atas. Hhe..
Setuju sekali jika bidan disebut sebagai garda terdepan atau lebih sering disebut sebagai ujung tombak kesehatan Karena bidan adalah perpanjangan tangan puskesmas. Sebagaimana kita ketahui bahwa puskesmas sendiri memiliki banyak program kesehatan yang dipegang oleh pegawai puskesmas (masing-masing tenaga ahli per programnya) seperti promosi kesehatan (promkes), perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penyakit, surveylens, dll. jika di puskesmas program tersebut dilakukan oleh beberapa tenaga kesehatan sesuai tenaga ahlinya, di poskesdes semua program tersebut dilakukan oleh (hanya) seorang bidan desa. Benar-benar pemantauan wilayah desa, dari kelahiran, hidup (penyakit, bencana, kendaraan, penghasilan, adat, dll), sampai kematian penduduk desa ybs.
Seabrek tanggung jawab diatas baru preambule saja. Ada lagi tugas pokok bidan yang tak kalah hebatnya dengan pekerjaan-pekerjaan di atas yaitu kesehatan ibu dan anak. Dari hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, sampai balita yang harus di/terpantau oleh seorang bidan desa. Jangan sampe deh ada kematian pada kategori-kategori di atas, momok audit ;E
Aku tak akan menceritakan semuanya disini, hanya akan menekankan pada persalinan karena bagian ini yang tak kenal jam kerja (selain kegawatdaruratan). Sebelumnya aku juga  adalah perempuan biasa dan menjadi tak biasa setelah menjadi bidan desa.
Kenapa???
Biasanya siang itu untuk beragam aktivitas dan malam itu untuk istirahat. Setelah menjadi bides, semuanya berubah drastis. Tiba-tiba aku melihat jelas bentuk malam, melihat langit dan kesunyian desa di tengah malam, jalan yang terhampar panjang tanpa ada saingan, merasai dinginnya malam. Ya, itu ketika seorang bides harus menjalankan amanahnya menolong persalinan di rumah masyarakat, dijemput di tengah malam, pulang ke rumah sendiri ketika ada alat yang tertinggal, di tengah malam. Begitulah persalinan, ia tak mengenal waktu, dengan Jam kerja ia tetap harus bekerja. Pagi adalah jam kerja wajib, sore pelayanan, malam/tengah malam/pertiga malam/shubuh atau kapanpun adalah pertolongan 2 nyawa manusia. Kemudian, tidur pun terbayang pasien, bunyi handphone langsung (khususnya di malam hari) membuat spot jantung.
Senang rasanya ketika telah selesai menolong persalinan (normal) tapi ketika ditemui dengan tanda bahaya (gawat darurat), tak akan kau temui aku di diriku. Syok, tegang, khawatir dan takut nyampur jadi satu. Jantung bergemuruh..

Kemudian aku menghubung-hubungkan, kenapa ideal?. Harusnya justru ia (bc. bidan desa) akan menjadi istri atau mantu yang tak ideal. Waktunya sarapan mungkin ia tak akan menyuguhkan teh untukmu, ketika makan bisa jadi ia tak menemani, tidurmupun mungkin akan terganggu. Ini kondisi jika ada pasien. Jika tidak, bahkan ia mampu menemanimu saat jam kerja. kembali lagi, konsekuensi bidan. Ideal atau tidak, tergantung pemahamanmu terhadap diri bidan. Belum lagi jika ia pemalas (bc. Tidak rajin), hhe, bisa dibayangkan gimana jadinya..
Menurutku, silahkan pikirkan dulu jika ingin memperistri ‘bidan desa’ karena hidupmu akan berubah ^^e

Sumber: pengalaman bidan desa Air Mesu, poskesdes air mesu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar